Pemuda Tunarungu Ingin Menjadi Bintang Tenis Dunia

Pemuda Tunarungu Ingin Menjadi Bintang Tenis Dunia

Yahoo! Olahraga – 19 jam yang lalu

  • Lee Duck Hee (Yahoo! Eurosport)

    Yahoo! Olahraga – Lee Duck Hee (Yahoo! Eurosport)

Oleh: Reuters

Atlet tenis muda asal Korea Selatan, Lee Duck-hee memiliki cita-cita menjadi petenis papan atas dunia. Itu adalah mimpi yang dimiliki semua pemain junior di seluruh dunia, tapi uniknya Lee adalah seorang tunarungu.

Dalam olahraga tenis, para pemain menggunakan pendengaran mereka untuk mengalibrasi waktu, mengukur tingkat spin dan kekuatan serta mendengar dukungan dari orang banyak. Kerugian yang dihadapi Lee mungkin lebih besar dari yang diduga.

Namun pemuda berusia 14 tahun yang tuli sejak lahir ini menolak menyerah karena cacat, seperti yang dilansir oleh Yahoo! Eurosport.

Dengan membaca gerak  bibir, kemudian berbicara melalui seorang penerjemah, Lee mengatakan kepada wartawan di Australian Open bahwa pada kenyataannya dia lebih suka tidak menyebutkan kondisinya kepada lawan atau petugas.

“Satu hal yang sulit adalah komunikasi dengan wasit, baik wasit dan hakim garis,” katanya. “Saya tidak mendengar panggilan, khususnya panggilan keluar, jadi terkadang … terus melanjutkan. Hal itu agak sulit tapi tidak ada yang spesial.”

Ini terjadi beberapa kali saat pertandingan putaran kedua Lee berhadapan dengan Christian Garin dari Chile di pertandingan junior pada Senin, pertandingan yang berakhir dengan kekalahan 6-3 6-3 untuk Lee.

“Saya khawatir tentang itu karena hari ini hal tersebut terjadi berkali-kali,” kata Lee.

“Para wasit kursi sudah mengatakan ‘tunggu’ tapi saya tidak bisa mendengarnya, jadi ada banyak halangan. Saya ingin melihat [gerak tubuh] yang jelas dari wasit selama pertandingan.”

Menurut Australian Open, para kru tidak menerima arahan tertentu sebelum pertandingan bahwa Lee tunarungu tetapi pada beberapa kesempatan, wasit Thomas Sweeney menggunakan tangannya untuk berkomunikasi.

Bagi sebagian besar pemain, mendengar suara raket lawan ketika mereka memukul bola sangat penting untuk menilai kekuatan yang digunakan untuk membalas pukulan bola tersebut.

Lee mengatasinya dengan baik, namun, mengatakan bahwa tidak mendengar suara apa pun dari penonton membuat hidup lebih mudah di lapangan.

“Sebenarnya saya tidak peduli tentang kekurangan saya ini sama sekali, dan di lapangan sangat mudah untuk fokus pada pertandingan karena saya tidak bisa mendengar apa-apa,” katanya. “Jadi lebih nyaman untuk bermain.”

Lee telah membuktikan bahwa dia mungkin memiliki apa yang diperlukan untuk sukses mengatasi rintangan, setelah memenangi Eddie Herr International, kejuaraan tenis di bawah usia 12 tahun yang diadakan setiap tahun di Miami.

Di Melbourne, dia memenuhi syarat untuk pertama kalinya pada kejuaraan Grand Slam dan meskipun dia kalah di putaran kedua pada Senin, dia  bertekad untuk kembali.

“Saya sangat senang berada di sini untuk pertama kalinya,” katanya.

“Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk menilai kemampuan saya melawan pemain dunia lainnya. Saya sangat senang dan berharap untuk berada di sini lagi tahun depan…”

Pelatih Lee, Hoon Park-Kyung, mengatakan mereka berdua memiliki hubungan khusus karena kecacatan.

“Komunikasi antara pemain dan pelatih di Korea biasanya cukup sederhana karena para pemain berpikir bahwa mereka harus mematuhi apa yang dikatakan kepada mereka,” tutur Hoon.

“Saya hanya ingin kami bermain bersama, bukan hanya mengajarinya, tetapi juga mengatakan hal-hal kecil dan jika mengalami kesulitan, mengatakan segalanya  (yang perlu dikatakan). Itu prioritas.”

Pada usia 14 tahun, Lee memiliki prospek yang luar biasa dan ambisinya adalah masuk 10 besar pemain junior pada akhir tahun ini.

Dalam prospek jangka panjang, dia ingin menjadi pemain terbaik dunia.

“Saya pernah bermain dengan [Roger] Federer,” kata Lee, menunjukkan foto dirinya di sebuah pameran di Korea, saat usia delapan tahun, di antara Federer dan Rafael Nadal.

“Sebenarnya, kemarin Federer lewat di aula tapi dia tidak mengenali saya. Saya sangat kecewa. Saya benar-benar ingin berfoto dengan dia. Mungkin saya bisa melakukannya di masa depan.”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s